Diposting oleh
toi
Senin, 16 Juni 2014
LUKAS 15:11-24
Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh . Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya , katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh , ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan . Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
BY: PDT ALBERT PANDIANGAN, SH.,MA ( Minggu 1 Juni 2014 )
Dalam pembacaan ini menceritakan tentang anak muda yang memboroskan harta warisan, hidup berfoya-foya. kita melihat tahapan-tahapan perjalanan dari seorang anak bungsu ini, pada ayat 12 menunjukkan mentalita seorang anak muda yang tidak stabil. ia tergesa-gesa untuk meminta warisannya dan pergi jauh dari rumah. Anak bungsu yang terburu-buru mengambil keputusan tanpa ada kesiapan mental. anak muda ini belum siap untuk mandiri tapi bersikeras untuk hidup sendiri jauh dari keluarganya. Tanpa memikirkan resiko apa yang akan terjadi dari keputusannya. kemudian pada ayat 13 ia hidup berfoya-foya atau menghabiskan uang, ini juga disebabkan karena mentalitas yang labil. Ia langsung memboroskan hartanya, uangnya, untuk mendapatkan kesenangan duniawi. ayat 14-16 mencatat tentang resiko dari keputusan untuk menghabiskan hartanya. kehancuran dan keterpurukan dialami anak muda ini karena hidup yang berfoya-foya tanpa memikirkan masa depan. Ia mulai membanding-bandingkan keadaannya sekarang dengan yang dahulu sewaktu masih di rumah bapanya (ayat 17-19). Ia merindukan rumah bapanya, merindukan suasana keluarga di rumahnya. setelah ia sadar akan kesalahannya, iapun membuat keputusan terpenting yaitu kembali ke rumah bapanya ( ayat 20 a). ketika keputusan yang sebelumnya kita ambil itu salah dan mendatangkan resiko yang berat, buatlah keputusan yang lebih penting yaitu kembali kepada Bapa. saat anak bungsu ini kembali, ayat 20b - 24 memberi kesaksian bahwa ia mengalami pembaharuan di rumah bapa. bapanya menerima anak bungsu ini dengan sukacita, tanpa melihat kesalahan- kesalahan yang lalu, dengan tidak mengungkit-ngungkit lagi masa lalu-lalunya. yakinlah kita akan mendapat pembaharuan dalam hidup kita saat kita kembali kepada Bapa.
Nilai-nilai dalam kisah ini yang pertama ialah sifat Bapa kepada anaknya tidak berubah, yaitu kasih bapa. kita harus meneladani sifat bapa yang penuh dengan kasih. sekalipun kesalahan kita fatal, kasih tetap besar dan tidak akan berubah. yang kedua, bapa yang tersakiti tetap mencintai anaknya yang terhilang . kasih yang kekal tak menghendaki seorangpun binasa, kasih bapa lebih besar dari pelanggaran-pelanggaran kita. untuk itu mari kita syukuri kasih Tuhan dengan tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran kita.
Tuhan memberkati
|
0 komentar