Kemaren Sore 16 juli 2014 saya pulang kantor sekitar pukul 16.15 WIB, saya pulang bersama teman saya,di perjalanan saya berpapasan dengan tukang becak yang selalu ceria dan menebar senyum, saya sungguh senang melihatnya.teringat saat saya ke pasar ,di luar pasar, berjejer kendaraan roda tiga yang tidak bermesin.
Becak, yang akan bekerja jika dikayuh oleh seseorang. Hari itu ada
seorang tua dengan butiran-butiran keringat di dahinya sedang membersihkan becaknya di siang hari. Tidak lama
kemudian ada seorang wanita muda yang minta diantar ke suatu tempat yang cukup
jauh.
Tukang becak tersebut tidak meminta harga yang tinggi
walaupun jarak yang harus dia tempuh begitu jauh. Otot-ototnya mulai
bekerja keras dan keringat mengucur deras dari dahinya. Tidak ada raut
muka lelah, yang ada hanyalah senyuman.
Saat ditanya mengapa dia
selalu tersenyum, tukang becak itu menjawab, “Aku selalu bersyukur
dengan apa yang aku miliki. Terlebih lagi rasa syukur akan
menggebu-nggebu ketika otot-otot kakiku ini mulai bekerja. Aku
bersyukur atas apa yang aku dapatkan, itu sudah rejeki dan tanda bahwa
Tuhan selalu memelihara hidupku.”
Mungkin saat ini kita adalah
seorang karyawan suatu perusahaan, mahasiswa, Guru, polisi, Karyawan BUMN, atau memiliki profesi yang
lain. Kita masih lebih beruntung dari tukang becak tersebut. Kita masih
bisa mengakses internet, memiliki penghasilan tetap, dan tidak perlu
kepanasan setia harinya. Bila seorang tukang becak mampu terseyum dan
bersyukur atas kehidupannya, lalu bagaimana dengan kita?
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah
dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan
dengan ucapan syukur.
(Filipi 4:6)
Tuhan memberkati :-)

0 komentar